Trusted Partner in People and Corporate Development

 

“LEADERSHIP/KEPEMIMPINAN; arti, makna, dan aplikasinya” (3/5)

(Tulisan ini bersambung hingga lima seri, yang menuliskan: dasar pengertian atas leadership, makna dari leadership, dan berbagai bentuk aplikasinya)

Ditulis oleh:
Brata Taruna Hardjosubroto
Managing Partner – Xerofi Indonesia


Dalam tulisan bagian pertama dan kedua, sudah diuraikan apa yang dimaksud dengan leadership atau kepemimpinan. Bahwa Leadership adalah ‘dealing with people’ atau sering pula disebut sebagai ‘people skill’ atau ‘soft skill’. Leadership pada setiap individu bisa dikembangkan melalui pengembangan intrapersonal dan interpersonal.

Kompetensi leadership perlu diaplikasikan pada semua bentuk kegiatan: di tempat kerja, dalam keluarga, maupun dalam pergaulan sosial. Kemampuan leadership seseorang berbeda satu sama lain, yaitu diukur berdasarkan tingkat kemampuannya untuk membuat orang lain, baik secara individu maupun kelompok, melakukan pekerjaan/tugas yang diberikan kepadanya dengan maksimal. Tingkat leadership dapat dijabarkan dalam lima level yang berbeda: level 1 adalah pemimpin dengan tingkat leadership paling rendah dan level 5 adalah tingkat leadership tertinggi, seperti uraian di bawah ini.

“LEADERSHIP/KEPEMIMPINAN; arti, makna, dan aplikasinya” (1/5)

(Tulisan ini bersambung hingga lima seri, yang menuliskan: dasar pengertian atas leadership, makna dari leadership, dan berbagai bentuk aplikasinya)

Ditulis oleh:
Brata Taruna Hardjosubroto
Managing Partner – Xerofi Indonesia

Leadership, atau kepemimpinan, dalam istilah management sering disebut sebagai ‘people skill’ atau juga sering disebut sebagai ‘soft skill’. Skill atau keterampilan leadership berarti kemampuan seseorang dalam memengaruhi orang lain untuk menerima pendapatnya atau mengikuti tindakannya, atau melakukan hal pekerjaan yang dimaksudkan oleh seseorang tersebut. Adapun bentuk dan turunan dari kegiatan ‘memengaruhi’ adalah bermacam-macam, seperti memberi delegasi, menjual ide atau menjual konsep, memicu semangat kerja, memotivasi, membujuk, menginspirasi,  melakukan negosiasi, menyelesaikan konflik, pemecahan masalah, mengambil keputusan, dan masih banyak lainnya.

Setiap orang atau mahluk (termasuk binatang) di dunia ini sesungguhnya memiliki kemampuan leadership. Sejak mulai dilahirkan hingga dewasa, setiap orang telah memperagakan leadership nya, baik yang dilakukan secara sadar maupun yang digerakkan oleh instingnya. Jadi, setiap orang selalu diberi bekal kompetensi leadership yang diperlukan untuk bersosialisasi. Bagaimanapun setiap orang perlu selalu bersosialisasi guna melangsungkan kehidupannya dan mengembangkan karier atau penghasilannya. Kompetensi leadership tidak selalu diwujudkan dalam bentuk komunikasi, namun justru banyak diwujudkan dalam bentuk tindakan atau perbuatan.

Kita contohkan kemampuan memengaruhi atau leadership. Seorang pejabat atau manager yang memberikan suatu pekerjaan atau assignment kepada stafnya sesuai dengan tugas dan fungsi staf tersebut. Kemudian dalam memberikan tugas tersebut, para staf yang menerima tugasnya merasa tidak senang dengan cara managernya memberikan tugas. Namun, para staf terpaksa melakukan dan menyelesaikan tugas yang diberikannya itu karena tidak bisa menolak tuntutan managernya, sehingga para staf melakukan pekerjaannya dengan ala kadarnya. Maka ,bisa dikatakan sang manager tersebut kurang memiliki kompetensi leadership sebagai manager, atau kompetensi leadership-nya masih rendah. Sang manager hanya menggunakan ‘positional power’ terhadap stafnya, karena ‘personal power’ dalam bentuk leadership nya rendah. Karena itu, bisa dimengerti bila produktifitas di unit kerjanya akan cenderung rendah atau tidak maksimal.

Dalam perkembangannya, setiap orang akan memiliki kompetensi leadership yang berbeda satu sama lain, karena kemampuan untuk melatih dan pengembangan diri leadershipnya juga berbeda antara satu dan yang lain. Leadership adalah suatu kompetensi yang dapat dan harus senantiasa dikembangkan melalui berbagai proses pelatihan. Proses pengembangan kompetensi leadership yang paling efektif ada pada kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Seluruh kegiatan yang berupa komunikasi, gestur, body language, dan tindakan adalah merupakan bentuk pembentukan kompetensi kepemimpinan setiap individu. Pengembangan diri tersebut akan menjadi sangat efektif, bila diawali dan didasari oleh pemahaman yang utuh dan baik dari seluruh elemen dan aspek dasar kepemimpinan yang diperlukan.         

Yang menjadi pertanyaan bagi banyak orang adalah, apakah leadership merupakan kompetensi yang diperoleh dari bakat pembawaan saja atau merupakan kompetensi yang terjadi karena dikembangkan? Jawabannya adalah ‘kedua-duanya’. Seperti yang disampaikan di awal, setiap orang memiliki bakat atau kemampuan dalam kepemimpinan/leadership. Bakat tersebut berkembang sejalan dengan kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Seorang anak yang misalnya dibesarkan di lingkungan ditempat orang tuanya sebagai pimpinan suatu organisasi, dan ia sering diajak atau dilibatkan dalam kegiatan orang tuanya tersebut. Tanpa disadari, sang anak akan mencontoh tindakan atau komunikasi sang ayah terhadap anggota timnya. Dengan demikian, leadership sang anak akan bisa jauh lebih baik dibandingkan dengan temannya yang kondisi/gaya kehidupannya berbeda.

Kemampuan kepemimpinannya itu akan bisa jauh berkembang lebih baik lagi, bilamana sang anak diberikan bimbingan yang terarah dan disadari oleh dirinya sendiri. Bimbingan tersebut akan sangat baik bila dilakukan di waktu sekolah dan di rumah. Permasalahannya ialah, sistem pendidikan di Indonesia, mulai TK hingga perguruan tinggi, relatif sangat kurang dalam memberikan bimbingan leadership. Sekolah di negara barat, sejak TK sudah dibiasakan bekerja kelompok menyelesaikan tugas bersama. Sering kali diberikan tugas untuk mempelajari hal spesifik, misalkan topik mengenai ‘kera’. Sang anak harus mempelajari sendiri dari internet yang kemudian dipresentasikan didepan kelas. Seluruh contoh kerja kelompok dan presentasi tersebut adalah merupakan bentuk pelatihan aktif pada beberapa elemen utama leadership. Sedangkan kecenderungan pembelajaran di Indonesia sangat pasif, mencatat atau sebatas menghafal. Dengan cara seperti itu, kompetensi leadershipnya tidak berkembang baik.

Demikian pula di tempat kerja di Indonesia. Sangat banyak para pimpinan atau manager yang menggunakan gaya kepemimpinan otoriter atau instruksi untuk melakukan rangkaian aktivitas yang sudah ditentukan. Bawahan dari seorang pimpinan juga jarang yang memiliki power yang sangat terbatas, atau tidak terjadi kondisi dimana bawahan memiliki empowerment yang cukup. Kondisi ini jelas tidak efektif, tidak mendidik dan akan ‘mematikan’ kepemimpinan jajaran di bawahnya. Dengan keadaan demikian, bila terjadi pergantian pimpinan dari bawah, gaya kepemimpinan tersebut akan terus berulang, meskipun pemimpinnya telah ganti. Memang bisa dimengerti, bahwa gaya kepemimpinan demikian adalah serupa dengan gaya kepemimpinan dalam kerajaan yang dilakukan oleh seorang raja dan patihnya. Karena di Indonesia pada awalnya terdiri dari beberapa kerajaan, gaya kepemimpinan demikian masih sangat kental hingga sekarang.

Mata rantai yang terjadi sejak zaman Majapahit tersebut harus segera diputus. Artinya di masyarakat Indonesia, khususnya para pimpinan, harus menyadari hal tersebut. Dan mulai mengembangkan kompetensi kepemimpinan individunya dan juga mulai memimpin dengan cara menciptakan dan mengembangkan kepemimpinan pada jajaran bawahannya. Untuk itu, kita semua harus memahami langkah apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya mengembangkan kompetensi kepemimpinan pada diri kita dan pada jajaran di bawah kita atau juga pada hubungan lateral.

Tulisan selanjutnya akan dijelaskan aspek penting yang merupakan core atau inti dari proses pengembangan leadership, serta cara dan strategi untuk mengembangkan kepemimpinan individu dan jajaran di bawahnya.

“LEADERSHIP/KEPEMIMPINAN; arti, makna, dan aplikasinya” (2/5)

(Tulisan ini bersambung hingga lima seri, yang menuliskan: dasar pengertian atas leadership, makna dari leadership, dan berbagai bentuk aplikasinya)

Ditulis oleh:
Brata Taruna Hardjosubroto
Managing Partner – Xerofi Indonesia


Dalam tulisan bagian pertama sudah diuraikan apa yang dimaksud dengan leadership atau kepemimpinan. Leadership adalah ‘dealing with people’ atau sering pula disebut sebagai 'People Skill' atau 'Soft Skill'. Disebutkan pula bahwa setiap orang memiliki kompetensi leadership sejak lahir, dan berkembang sejalan dengan aktivitas keseharian dalam mengembangkan dirinya.

Bagaimana untuk mengembangkan leadership dalam diri kita? Dan pertanyaan yang sama ialah bagaimana kita bisa membantu mengembangkan leadership seseorang, anak buah, atau rekan kerja? Mengembangkan leadership ialah dengan cara mengembangkan dua aspek dasar, yakni ‘intrapersonal’ dan ‘interpersonal’. Kedua aspek ini harus berkembang dengan baik, khususnya aspek intrapersonal yang merupakan ‘core’ atau inti dari kepemimpinan.

Intrapersonal ialah kemampuan seseorang dalam mengembangkan karakternya, yaitu terkait dengan “moral, pengendalian emosi (EQ), sikap-mental” dan “self-skill”. Seorang pemimpin/manager yang memiliki intrapersonal yang kuat, akan memiliki potensi leadership yang sangat kuat dan mampu memberi pengaruh yang sangat besar kepada orang lain. Sebaliknya, seorang pemimpin/manager  yang intrapersonalnya lemah akan menjadi pemimpin yang munafik atau bahkan pemimpin yang cenderung merusak.

Moral adalah kemampuan seseorang untuk bertindak dan menjaga perilakunya agar senantiasa berada pada koridor norma-norma kehidupan yang berlaku pada lingkungannya atau masyarakat. Karena esensi leadership adalah ‘memengaruhi’, maka moral merupakan fondasi utama dalam leadership. Sebagai contoh yang cukup ekstrem preman,  ‘preman’, seseorang yang memiliki leadership yang kuat. Namun, karena moralnya rendah atau negatif, maka kompetensi leadershipnya diaplikasikan pada aspek yang negatif pula, atau disebut sebagai ‘unethical leader’.  Mother Teresa yang memiliki moral yang sangat tinggi dan leadership yang kuat dikenal sebagai ‘ethical leader’ yang sangat dihormati.

Bagaimana kita mengembangkan moral? Adalah dengan cara melalui berbagai aspek, yaitu mengaplikasikan IQ (Intelligence Quotient), mengembangkan EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Dua aspek terpenting dari tiga aspek tersebut ialah EQ dan SQ. Dan satu aspek terpenting yang akan sangat menentukan pengembangan moral ialah EQ. Melalui pengembangan SQ, diharapkan seseorang akan memiliki pemahaman dan keyakinan yang cukup kuat untuk berada pada norma kehidupan yang berlaku. SQ juga sebagai landasan EQ. Selanjutnya yang sangat menentukan dalam pengembangan moral adalah EQ, atau kemampuan dalam mengendalikan emosi diri. Maka untuk memiliki kemampuan leadership yang kuat, harus dimulai dan fokus untuk mengembangkan EQ.

Emotional Quotient memiliki Empat tahapan pengembangan diri yakni melalui: ‘Self Awareness’, yaitu evaluasi atas diri sendiri. ‘Self Management’, yaitu kemampuan untuk mengatur atau mengontrol diri; ‘Social Awareness’ yaitu kesadaran atas aspek sosial (empati). ‘Relation Management’, yaitu pengendalian emosi untuk berhubungan dengan orang lain.

Aspek berikutnya dalam pengembangan intrapersonal ialah ‘sikap mental’. Leadership akan berkembang dengan baik sejalan dengan sikap yang terbentuk pada setiap individu. Dimulai dengan sikap positif dalam menghadapi segala bentuk tantangan, akan terbentuk leadership yang kuat. Sebaliknya, sikap negatif akan melemahkan leadership seseorang. Sikap akan sangat menentukan mental. Sebagai contoh,  timbulnya mental yang gigih atau mental yang pantang menyerah adalah karena sikap positif terhadap tantangan yang tengah dihadapinya. Namun, bila yang ditimbulkan adalah sikap negatif, mental yang terbentuk juga akan berupa motivasi yang lemah atau merasa putus asa atau mudah menyerah, dan sebagainya.

Emotional Quotient, sikap dan mental, adalah aspek intrapersonal yang saling terkait, yang akan memengaruhi perilaku, tindakan, dan leadership style.  Kompetensi self-skill pada intrapersonal ialah terkait dengan Intelligence Quotient. Beberapa bentuk self-skill antara lain seperti pola pikir, sudut pandang, kemampuan melihat potensi ke depan, dan sebagainya.

Jadi, seluruh aspek intrapersonal yang meliputi moral, pengendalian emosi (EQ), sikap, mental dan self-skill, adalah merupakan landasan utama atau core daripada leadership. Hal ini semua adalah jawaban atas pertanyaan di atas, “bagaimana mengembangkan leadership?”  yaitu diawali dengan pengembangan intrapersonal. Proses pengembangan ini berlangsung sepanjang masa dan perlu fokus. Siapa pun, berapa pun umurnya, apa pun jabatannya, harus senantiasa mengembangkan aspek intrapersonal dengan fokus.

Seorang pemimpin/manager yang tidak memiliki intrapersonal yang baik dan kurang dapat menguasai dirinya, maka kemampuan leadershipnya atau kemampuan ‘dealing with people’ akan rendah. Manager tersebut akan sulit untuk mengambil keputusan dengan baik, atau kesulitan dalam memotivasi orang, sulit untuk mengatasi konflik, sulit untuk bertindak sebagai katalis, dan sebagainya.

Aspek kompetensi lainnya untuk mengembangkan kompetensi leadership ialah ‘interpersonal’ skill, yaitu kemampuan antar orang. interpersonal skill meliputi antara lain meliputi kemampuan dalam komunikasi, perilaku dan social skill. Kompetensi komunikasi adalah meliputi komunikasi verbal, mendengar (active listening), bertanya (questioning), dan klarifikasi (clarifying). Kompetensi komunikasi merupakan skill utama dalam hubungan antarorang, karena tindakan leadership adalah sebagian besar melalui komunikasi.

Melalui komunikasi yang efektif, manager akan dapat memengaruhi anak buahnya agar melakukan pekerjaan dengan motivasi tinggi. Yang dimaksud komunikasi yang efektif ialah bila dalam waktu yang relatif pendek, lawan bicara telah memahami seluruh pesan yang disampaikan dan termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan maksimal. Kondisi demikian bisa tercapai bila komunikasi dilakukan dengan baik secara dua arah dalam bentuk verbal, dengan diselingi kemampuan mendengar, bertanya, dan klarifikasi.

Kemampuan social skill ialah mencakup kemampuan dalam berpresentasi, bernegosiasi, memotivasi, bertindak sebagai katalis, dan sebagainya.

Kini, kita telah mengenal dua aspek intrapersonal dan interpersonal dan unsur-unsur turunannya yang meliputi moral, EQ, sikap mental, self-skill, komunikasi, tindakan, social skill, yang semuanya adalah merupakan elemen dasar dalam leadership. Maka, untuk meningkatkan kompetensi leadership, seluruh elemen tersebut perlu terus dikembangkan oleh setiap individu, khususnya para pimpinan.

Tulisan selanjutnya akan dijelaskan aplikasi leadership di tempat kerja. 

Merangkum uraian pada tulisan pertama hingga uraian keempat ini, leadership adalah suatu kompetensi yang bisa di kembangkan dan harus senantiasa di kembangkan atau dilatih sehingga mencapai level 5 leadership. Aspek utama yang harus dikembangkan ialah kompetensi intrapersonal yang merupakan ‘core’ dari leadership, dan kompetensi intrapersonal. Kompetensi intrapersonal ialah mencakup: moral, sikap mental, pengendalian diri dan self-skill. Sedangkan interpersonal mencakup: tindakan, komunikasi dan social skill.

Kemampuan interpersonal yang tinggi, namun intrapersonalnya rendah, akan cenderung bertindak sebagai ‘unethical leader’. Maka seorang pemimpin harus memiliki kompetensi intrapersonal dan interpersonal yang kuat. Kedua aspek ini harus senantiasa dikembangkan bersama. Pengembangan intrapersonal akan dapat cepat berkembang, bila para pemimpin membiasakan diri untuk meminta feedback dari orang lain, dan kemudian melakukan evaluasi diri. Untuk itu, sikap rendah hati pada seorang pemimpin akan sangat membantu perkembangan dirinya.

Pada tulisan ke lima di bawah, penulis akan membahas berbagai aplikasi leadership yang menunjukan level kompetensi. Berbagai contoh aplikasi leadership diharapkan akan menimbulkan inspirasi untuk pengembangan diri pembaca.



Selanjutnya, pemimpin dengan kemampuan level 4 leadership ialah pemimpin yang telah mampu membangun chemistry yang kental dengan stafnya, dan juga dengan semua pihak yang bekerja secara langsung atau tidak langsung.

Pemimpin level 4 sudah memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik dan efektif, dengan mengaplikasikan kemampuan komunikasi secara verbal, teknik ‘questioning’ dan ‘active listening’. Hampir setiap komunikasi yang dilakukan memberikan inspirasi kepada lawan bicaranya dan membangkitkan semangat/motivasi bekerja yang kuat.  Kemampuan interpersonalnya yang baik membuat setiap orang menaruh respek yang tinggi, bukan saja dari stafnya, namun juga dari atasannya.

Kemampuan intrapersonalnya yang baik membuat setiap orang merasa nyaman untuk berdialog dan bekerja sama tanpa timbu perasaan tegang atau adanya ‘barier’ yang berarti. Mereka percaya bahwa pemimpinnya akan memberikan dukungan yang tepat setiap saat diperlukan. Dengan demikian, pada setiap orang akan timbul komitmen cukup tinggi untuk melakukan pekerjaan dan mencapai sasaran kerja yang diharapkan.

Pemimpin level 5 adalah pemimpin yang sangat karismatik dan menjadi contoh atau ‘role model’ yang dibanggakan oleh bawahannya. Pemimpin level 5 terbentuk bila telah memiliki kompetensi intrapersonalnya yang tinggi, yaitu moral dan integritasnya yang sangat kuat, kesadaran sosial (empati)-nya yang sangat tinggi, dan keluhuran budinya yang dalam. Secara teknis, mereka memiliki kredibilitas yang kuat dan sangat piawai dalam membangun atmosfir yang kondusif, sehingga tercapai harmoni kerja yang baik.

Selain kemampuan intrapersonal dan interpersonalnya yang sangat kuat, pemimpin level 5 selalu memberikan ‘values’ atau nilai yang sangat bermanfaat bagi orang lain, memiliki ‘wisdom’ yang dalam, dan sekaligus juga sangat rendah hati. Kombinasi dari keseluruhannya ini menimbulkan karisma yang tinggi dan menjadikan bawahan atau orang yang bekerja untuknya akan melakukan komitmen kerja yang tinggi.

Tidak jarang orang yang bekerja untuknya akan mengerahkan segala kemampuan dan rela mengorbankan hampir segalanya untuk bekerja atau ‘mengabdi’ kepada pemimpin ini. Pemimpin dengan level 5 leadership sangat fokus dan meluangkan banyak waktunya dalam mengembangkan bawahan dan juga orang lain, untuk mencetak pemimpin-pemimpin baru yang kuat.

Contoh pemimpin level 5 leadership seperti pemimpin revolusi Bung Karno atau Mahatma Gandhi. Pemimpin teroris seperti Osama Bin Laden pun bisa disebut orang yang memiliki leadership yang sangat kuat (setara dengan level 5), karena dapat memengaruhi pengikutnya untuk berkorban hingga bunuh diri. Untuk itu satu dimensi lain yang membedakan kualitas kepemimpinan yang positif dan negatif, yaitu etika atau yang terkait dengan moral.

Chart di bawah menunjukan  dimensi etika yang dimaksud. Pemimpin yang moral individunya positif dan moral managernya juga positif disebut sebagai ethical leader. Sedangkan pemimpin yang moral individunya negatif dan moral managernya negatif, disebut sebagai unethical leader. Contoh Bung Karno atau Mahatma Gandhi disebut sebagai ethical leader, sedangkan Osama Bin Laden disebut sebagai unethical leader.

Pemimpin dengan moral manager yang kuat, namun moral individunya lemah, disebut sebagai pemimpin yang munafik atau hypocrite leader. Tipe pemimpin yang munafik ialah yang senantiasa menganjurk kepada staf atau orang lain agar berbuat hal yang baik, namun perilaku dirinya sendiri justru tidak ethical atau sering melanggar norma-norma yang berlaku. Sedangkan pemimpin yang moral managernya lemah namun moral individunya kuat adalah pemimpin yang baik namun berada pada organisasi atau lingkungan yang tidak ethical. Sehingga pemimpin tersebut akan bisa terbawa menjadi unethical, atau berhasil mengubah lingkungannya menjadi ethical.

“LEADERSHIP/KEPEMIMPINAN; arti, makna, dan aplikasinya” (4/5)

(Tulisan ini bersambung hingga lima seri, yang menuliskan: dasar pengertian atas leadership, makna dari leadership, dan berbagai bentuk aplikasinya)

Ditulis oleh:
Brata Taruna Hardjosubroto
Managing Partner – Xerofi Indonesia


Dalam tulisan bagian pertama, kedua, dan ketiga, sudah diuraikan apa yang dimaksud dengan leadership atau kepemimpinan. Leadership adalah ‘dealing with people’ atau sering pula disebut sebagai ‘people skill’ atau ‘soft skill’. Leadership pada setiap individu bisa dikembangkan melalui pengembangan intrapersonal dan interpersonal.  Penjelasan atas lima level kompetensi leadership, telah diuraikan sampai dengan level 3.

Article

Setiap individu atau seorang pemimpin memiliki dua jenis ‘power’ dalam mengaplikasikan kemampuan leadershipnya, yaitu yang disebut ‘personal power’ dan ‘positional power’. Personal power adalah kemampuan atau kekuatan yang berasal dari dalam diri individunya, antara lain seperti keahlian teknis, jaringan relasi yang dimiliki, kompetensi individu, kemampuan interpersonal, kepribadian, dan sebagainya. Sedangkan positional power adalah kekuatan formal yang diperoleh atau diberikan dari organisasi tempat bekerja, antara lain seperti kekuasaan untuk mengimplementasikan kebijakan ‘reward & punishment’, merekrut, memindahkan, memberhentikan, dan sebagainya.

Setiap pemimpin harus dapat mengembangkan dan mengaplikasikan kedua jenis power tersebut secara proporsional dan sesuai dengan keperluannya. Kemampuan leadership yang sebenarnya adalah terletak pada tingkat personal power yang dimilikinya. Seorang pemimpin seyogyanya lebih banyak menggunakan personal power nya untuk memimpin,  dan hanya menggunakan positional power nya bilamana sewaktu-waktu diperlukan.

Leadership level 1 adalah pemimpin dengan kemampuan leadershipnya yang masih rendah. Kompetensi intrapersonal yang masih rendah dan labil, kurang dapat mengendalikan dirinya, memiliki sikap yang lebih sering negatif, kurang memiliki empati. Demikian pula kemampuan interpersonalnya masih sebatas menggunakan nalar pada umumnya saja. Seorang pemimpin yang memiliki kemampuan leadership dan personal power yang rendah, biasanya cenderung mengandalkan positional power nya untuk memimpin stafnya. Pemimpin yang demikian sangat tidak disukai oleh anak buahnya, karena hampir tidak memberikan nilai tambah bagi tim kerjanya. Dengan begitu, seluruh stafnya akan melakukan tugas yang diberikannya hanya karena hubungan formal. Pada kondisi demikian, staf akan bekerja atau memberi kontribusi dengan kemampuan minimal.

Pemimpin dengan kemampuan leadership di level 1 adalah pemimpin yang tidak/belum  kompeten sebagai leader, dan sering kali menyalahgunakan power yang diberikan. Pemimpin dengan level 1 cenderung sering melakukan ‘Management by Anger’, dan tidak jarang memimpin dengan memberi ancaman, mencela, marah-marah karena rendahnya kompetensi intrapersonalnya.  Penulis mengamati, tidak sedikit pejabat di lingkungan BUMN atau juga di perusahaan swasta nasional yang memiliki pejabat dengan kualitas leadership level 1. Seseorang dengan leadership level 1 belum layak menjadi seorang pemimpin, cukup sebagai staf saja.

Pemimpin dengan leadership level 2 adalah pemimpin yang cukup pantas dengan jabatan struktural pada tingkat supervisor atau first line manager. Leadership level 2 pada dasarnya belum memiliki kompetensi leadership yang utuh, namun  sudah dapat membangun hubungan emosi yang cukup baik. Atau kemampuan interpersonalnya sudah mampu untuk membangun chemistry yang cukup baik. Dengan kemampuan tersebut, para staf dalam unit kerjanya (yang pada umumnya masih tergolong sangat muda, umur 20-an), akan cukup menghormatinya untuk mengerjakan tugasnya dengan baik, meskipun masih berpotensi labil.

Pemimpin dengan leadership level 2, pada umumnya masih belum mampu atau masih merasa sulit bila membawahi staf yang lebih senior atau memiliki keahlian lebih tinggi darinya. Leadership level 2 belum mampu mengaplikasikan ‘leadership style’ yang efektif. Yang dimaksud dengan ‘leadership style’ ialah kemampuan mengaplikasikan kepemimpinannya secara berbeda, bergantung pada karakteristik stafnya. Staf yang senior atau sudah ahli tentunya harus diperlakukan melalui pendekatan berbeda dengan staf yang masih  junior atau awam. Leadership level 2 telah cukup memiliki inisiatif, namun belum mampu untuk mengambil keputusan dengan baik, khususnya terhadap permasalahan yang kompleks.

Kembali, berdasarkan pengamatan penulis, masih cukup banyak pemimpin di Indonesia ini yang telah menduduki posisi struktural tinggi, namun kompetensinya masih pada level 2. Hal ini akan berpotensi merugikan perusahaan, karena produktivitas dari tim di bawahnya pasti tidak akan maksimal.

Pemimpin dengan tingkat leadership level 3 telah mampu untuk membangun chemistry yang baik dengan bawahannya. Level 3 adalah pemimpin yang sudah memiliki EQ yang cukup kuat, dapat mengendalikan emosi dan mengontrol dirinya dengan baik, memiliki sikap positif, yang akan memberi pengaruh positif pula bagi bawahannya. Dengan sikap yang positif, menunjukkan kemampuan intrapersonal yang memadai dan juga kemampuan Interpersonalnya yang cukup efektif, dapat tercipta pula mental dan budaya kerja yang baik.

Pemimpin leadership level 3 telah mampu untuk mengaplikasikan style yang sesuai dengan karakter, kompetensi, dan motivasi bawahannya. Dengan demikian, dapat bertindak dengan tepat dan efektif dalam menghadapi kondisi tantangan kerja yang bervariasi. Mereka telah mampu mengendalikan konflik yang terjadi, mengantisipasi berbagai kemungkinan, mampu memberikan ‘big picture’ yang sederhana di masa mendatang, dapat membangun sinergi dengan tim kerjanya, mampu memberi delegasi yang tepat, dan bertindak sebagai mentor yang baik untuk membangun kompetensi bawahannya: coaching, counseling, dan evaluation.

Level 3 telah mampu mengatasi permasalahan yang kompleks dengan melibatkan tim kerja terkait dan memimpin dalam mengambil keputusan dengan cukup baik.



“LEADERSHIP/KEPEMIMPINAN; arti, makna, dan aplikasinya” (5/5)

(Tulisan ini bersambung hingga lima seri, yang menuliskan: dasar pengertian atas leadership, makna dari leadership, dan berbagai bentuk aplikasinya)

Ditulis oleh:
Brata Taruna Hardjosubroto
Managing Partner – Xerofi Indonesia


Dalam tulisan ke-1 sampai dengan ke-4, telah diuraikan secara cukup rinci mengenai arti dan makna leadership atau kepemimpinan. Tulisan ke-5 ini akan membahas beberapa contoh aplikasi kepemimpinan yang lemah, contoh kepemimpinan yang tidak ethical dan contoh yang tepat.

Pertama, kita bahas kepemimpinan yang lemah dan tidak ethical. Bisa diamati beberapa kejadian di pemerintahan karena banyak pejabat yang terlibat kasus suap, melakukan pembiaran atas kesalahan, penyalahgunaan kekuasaan, mendahulukan kepentingan dirinya atau menomorduakan kepentingan masyarakat, dan masih banyak contoh lain.

Para pemimpin yang seyogyanya dipilih karena integritas yang tinggi ternyata justru memiliki integritas jauh lebih buruk dari yang diharapkan. Sangat jelas bahwa pejabat yang melakukan tindakan korupsi adalah individu yang sangat lemah, atau intrapersonal skillnya sangat rendah. Seperti yang diuraikan pada tulisan sebelumnya, intrapersonal adalah merupakan fondasi utama kepemimpinan/leadership. Sedangkan interpersonal merupakan kompetensi utama dalam leadership, yaitu kemampuan dalam memimpin atau memberi pengaruh kepada orang lain untuk melakukan tugas tertentu.

Banyaknya pejabat/pemimpin yang bertindak menyimpang merupakan fakta bahwa kemampuan untuk memilih pemimpin di negara ini masih sangat buruk. Mengapa pejabat tersebut dapat lolos terpilih sebagai pemimpin? Hal yang lebih mengecewakan lagi ialah bahwa beberapa pemimpin yang terlibat dalam penyimpangan tersebut adalah pejabat polisi atau kejaksaan yang memiliki tanggung jawab utama menegakkan hukum dan membasmi penyimpangan. Pada kenyataannya justru melakukan penyimpangan.

Kondisi yang demikian jelas akan membawa kerugian yang sangat besar bagi orang yang dipimpinnya. Bila pemimpin tersebut adalah pemimpin negara, yang dirugikan secara langsung  adalah seluruh masyarakat yang berada dalam wilayah kepemimpinannya, dan juga masyarakat lain yang terkena imbas secara tidak langsung. Kerugian lain yang lebih besar adalah tingkat produktivitas yang dihasilkan oleh lembaga atau masyarakat tersebut akan menjadi sangat rendah.

Contoh lain bentuk kepemimpinan yang rendah akibat kompetensi intrapersonal yang buruk ialah banyaknya penyalahgunaan kekuasaan. Kita bisa menemukan bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang sangat nyata dan juga banyak yang tersembunyi. Hal ini adalah merupakan pelanggaran amanah (kepercayaan) yang diberikan. Penulis pernah bermain golf di salah satu kota, pada hari Minggu. Pada saat tiba di lapangan golf, bersamaan ada satu mobil sedan yang dikawal dengan satu mobil polisi warna putih berisi dua orang polisi dan empat motor besar polisi yang dikendarai oleh polisi. Ternyata iringan mobil polisi tersebut adalah untuk mengantar kapolda wilayah tersebut bersama istrinya bermain golf!

Ditinjau dari sudut management, tindakan kapolda tersebut menunjukan kepemimpinannya yang tidak efektif. Tentu saja sesuatu yang wajar bagi kapolda untuk main golf di hari Minggu. Namun, kepergiannya dengan menggunakan fasilitas negara yang berlebihan untuk mengantar bermain golf pada hari libur merupakan tindakan penyalahgunaan wewenang yang diberikan. Dalam hal ini terdapat kerugian finansial yang dikeluarkan negara, tetapi bukan ini yang menjadi persoalan utama. Tindakan kapolda tersebut menunjukan bahwa beliau memiliki mental yang buruk, lebih mementingkan keperluan pribadinya, dan menomor duakan kepentingan masyarakat. Perilaku tersebut juga akan menjadi contoh buruk bagi polisi yang lebih junior atau calon pejabat mendatang.

Penulis merasa cukup sulit untuk saat ini bisa menemukan figur yang memiliki kompetensi leadership yang ethical dan kuat di Indonesia, khususnya mencari pemimpin yang memiliki kompetensi intrapersonal yang baik. Sebagian besar pemimpin yang berkuasa saat ini dan juga pemimpin pada masa orde baru atau setelahnya, memiliki intrapersonal yang rendah atau bahkan cenderung buruk dan munafik. Atau, kalau bila ada yang memiliki intrapersonal yang baik, kemampuan interpersonalnya rendah. Dengan kualitas pemimpin yang rendah, maka hasil kerja keseluruhan juga akan menjadi rendah.

Sikap, mental, dan perilaku yang tidak ethical akan menghasilkan leadership yang tidak ethical. Beberapa contoh, yaitu antara lain menyalah gunakan kekuasaan, tidak menjalankan amanah, melanggar norma dan etika kerja, mementingkan kepentingan individu, tidak accountable, menghalalkan cara yang tidak halal, dan sebagainya. Perilaku yang negatif ini semua bukan saja akan menghasilkan kinerja yang buruk, namun sekaligus akan membentuk budaya yang tidak ethical pada lingkungan kerja dan juga generasi yang lebih muda.

Namun, penulis dapat menyebutkan beberapa contoh pemimpin yang memiliki intrapersonal dan interpersonal yang baik, yaitu seperti mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, mantan Kapolri Jenderal Hoegeng, mantan Pangab M. Jusuf, dan ada beberapa lagi. Selain itu, ada juga beberapa contoh pemimpin BUMN yang baik, meskipun tidak banyak jumlahnya yang bisa disebutkan. Namun, Indonesia pernah memiliki cukup banyak pemimpin yang kuat dan membanggakan, yaitu pemimpin yang telah terukir sebagai pahlawan nasional.

Bagaimana kita menilai kompetensi kepemimpinan/leadership seseorang? Kita patut menilai dari sisi intrapersonal terlebih dahulu, yaitu beberapa aspek penting antara lain kejujuran, integritas, accountability, komitmen, sikap-mental, dan pengendalian emosi. Setelah itu kita nilai sisi interpersonalnya, yang ditinjau dari beberapa aspek penting antara lain kemampuan komunikasi yang menjual dan menginspirasi, rasa empati yang tinggi terhadap lingkungan, kemampuan memotivasi, bertindak sebagai katalis, mengatasi konflik, dan kemampuan melakukan perubahan.

Seorang pemimpin yang baik harus mampu untuk senantiasa membentuk pemimpin-pemimpin baru yang kuat. Bila ada seorang pemimpin yang merasa terancam terhadap bawahannya, dan kemudian melakukan tindakan yang menghentikan kemajuan kompetensi bawahannya tersebut, bisa dipastikan leadership pemimpin tersebut rendah.


Salah satu sikap mental yang dapat mempercepat perkembangan kepemimpinan seseorang ialah ‘kerendahan hati’. Seorang pemimpin yang rendah hati akan memiliki peluang sukses yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pemimpin yang tinggi hati. Pemimpin yang rendah hati akan mampu mendengar lebih baik dan mampu mengevaluasi dirinya dengan lebih dalam yang  kemudian mau melakukan koreksi terhadap kelemahannya. Dengan begitu pemimpin yang rendah hati akan lebih dihargai oleh bawahannya, dan akan mampu memimpin dengan lebih efektif dibandingkan dengan pemimpin yang tinggi hati.