Trusted Partner in People and Corporate Development

 

“Menciptakan Kondisi Kerja yang Harmoni dan Kondusif Sebagai Tanggung Jawab Pimpinan”

Ditulis oleh:
Brata Taruna Hardjosubroto
Managing Partner – Xerofi Indonesia

Pimpinan memiliki tugas untuk meningkatkan kinerja teamnya guna mencapai sasaran kerja yang sudah ditetapkan oleh stake holder. Untuk dapat mencapai kinerja maksimal, banyak hal yang harus dilakukan oleh setiap pimpinan dan jajarannya. Salah satunya ialah harus membangun sinergi yang saling mendukung di antara karyawannya, sehingga seluruh tim dapat melakukan pekerjaan dengan efektif dan produktif.

Kondisi tempat karyawan dapat bekerja dengan sinergi maksimal dan produktif hanya akan dapat terjadi bilamana seluruh karyawan bekerja dalam kondisi kerja yang harmoni dan kondusif. Hal ini merupakan kondisi mutlak yang harus terlebih dulu diciptakan oleh setiap pimpinan. Walaupun kemampuan individual dari setiap karyawan tinggi, bila mereka bekerja pada organisasi dengan kondisi kerja tidak harmoni dan kondusif, maka motivasi dan kinerja mereka pasti akan rendah, sehingga produktivitas kerja juga akan rendah. Namun sebaliknya, walaupun kompetensi karyawan tidak terlampau tinggi, bila mereka bekerja dalam kondisi yang tepat, maka kinerja mereka akan bisa maksimal.

Bagaimana para pimpinan membentuk kondisi kerja ‘harmoni’? Apa yang harus dilakukan pimpinan untuk menciptakan kondisi harmoni? Kondisi kerja yang harmoni dapat tercipta bila para pimpinan dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  • Bila pimpinan telah berhasil membuat seluruh karyawan memahami benar Misi, Visi, Sasaran kerja, Program kerja perusahaan, dan Informasi strategis perusahaan. (Pada kenyataannya, masih banyak pimpinan yang tidak melakukan komunikasi dengan baik terhadap bawahannya atas hal tersebut di atas, khususnya pada organisasi yang besar. Atau lebih buruk lagi, pimpinan bahkan belum menentukan sasaran kerja yang rinci dan belum memiliki program kerja yang strategis).
  • Bila pimpinan mengaplikasikan segala peraturan dan kebijakan secara adil, dan secara terbuka tanpa ada perbedaan, jujur, dan konsisten. (Pada kenyataannya, masih cukup banyak pimpinan yang bertindak sepihak atau dalam aplikasinya ‘tebang pilih’, atau tidak bertindak jujur, sehingga terjadi kecemburuan dan suara ‘sumbang’ terjadi di mana-mana.)
  • Bila seluruh karyawan telah memperoleh penugasan dan delegasi yang jelas/spesifik, tidak tumpang tindih dan dengan accountability yang jelas. Setiap karyawan memperoleh kewenangan (empowerment) yang cukup dan memperoleh evaluasi secara fair oleh atasannya, terhadap prestasi kerjanya. (Pada kenyataannya, masih banyak pimpinan tidak melakukan evaluasi kinerja anak buahnya dan bertindak semena-mena dalam penugasan.)
  • Bila pimpinan memberikan contoh dan bertindak sebagai ‘role model’ yang dapat membangkitkan kebanggaan karyawan. Dan bila pimpinan mengaplikasikan leadership yang ethical dan tidak munafik. (Pada kenyataannya masih banyak pimpinan yang bertindak munafik atau bahkan melakukan leadership yang tidak ethical.)


Tindakan apa yang perlu dilakukan pimpinan untuk menciptakan kondisi kerja yang kondusif? Kondisi kerja yang kondusif dapat tercipta bila para pimpinan dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  • Bila karyawan merasa nyaman bekerja karena selalu di ‘back up’ dengan baik oleh atasannya, dan mendapat dukungan/bantuan pada saat diperlukan. (Pada kenyataannya, masih banyak pemimpin yang bertindak sebaliknya, menyalahkan atau mengkambinghitamkan bawahannya agar namanya tidak tercemar karena kesalahannya. Atau justru menghindar bila mengetahui bahwa anak buahnya sedang menghadapi situasi yang sulit.)
  • Bila proses bisnis dilakukan dengan efisien dan efektif tanpa birokrasi yang berlebihan, misalnya pembayaran kembali (reimbursement) mudah dan cepat, pesanan pelanggan dapat di-handle sesuai harapan, persetujuan program kerja dapat diproses dalam batas waktu yang reasonable, dan sebagainya.
  • Bila pimpinan berhasil menciptakan budaya kerja yang sesuai dengan misi perusahaan, dengan sikap dan perilaku karyawan yang dapat sejalan dengan sasaran perusahaan, dan telah menjadi salah satu faktor ‘kekuatan’ pada SWOT perusahaan.


Jadi, sangat penting bagi para pimpinan untuk mampu menciptakan kondisi kerja yang harmoni dan kondusif agar dapat tercapai kinerja yang produktif dengan maksimal. Kondisi yang kondusif akan dapat terjadi hanya bila kondisi kerja dalam perusahaan harmonis. Kondisi kerja yang kondusif akan menimbulkan sinergi kerja yang tinggi, sehingga produktivitas juga akan tinggi. Organisasi dengan kondisi kerja yang tidak harmoni tidak akan dapat tercipta kondisi kerja yang kondusif.

Sebagai pimpinan, kompetensi apa yang harus dimiliki untuk dapat menciptakan kondisi kerja yang harmoni dan kondusif tersebut? Setiap pemimpin perlu memiliki fundamental intrapersonal skill yang kuat, kemampuan managerial yang baik, kompetensi interpersonal, dan leadership yang ethical.

Kompetensi utama sebagai fondasi adalah intrapersonal, yaitu kompetensi yang terkait dengan moral, integritas, sikap mental, kecerdasan emosi, dan self skill. Kompetensi ini akan memberikan dampak yang sangat kuat untuk terbentuknya ‘TRUST’ pada karyawan terhadap pimpinannya. Tanpa trust tidak akan terjadi kondisi harmoni, sebaliknya akan terjadi banyak konflik, vertikal maupun konflik horisontal. Trust adalah merupakan aspek ‘terpenting’ pada setiap organisasi, dan aspek inilah yang pertama kali harus dibangun oleh setiap pimpinan perusahaan. Dengan Trust, maka akan terbentuk sinergi dan chemistry yang kuat di antara karyawan.

Pemimpin yang tidak memiliki integritas dan moral yang baik, bersikap negatif, atau pengendalian emosi yang buruk akan tidak mampu menciptakan kondisi kerja yang harmoni. Merupakan ironi bahwa pada umumnya aspek intrapersonal adalah yang paling sulit dikembangkan oleh setiap individu, khususnya para pimpinan. Hal ini disebabkan oleh karena kesadaran dan kemauan yang rendah untuk melakukan perubahan pada diri sendiri. Ditambah lagi dengan sifat arogansi atas power yang dimilikinya sebagai pimpinan, akan membuat semakin berkurangnya keinginan untuk mendengar dan mencari feedback atas kelemahan dan kekuatannya.

Kompetensi intrapersonal selanjutnya harus diikuti dengan kemampuan interpersonal yang kuat, yaitu perilaku yang dapat menjadi model atau contoh bagi yang lain, kemampuan komunikasi yang baik, empati dan social skill yang kuat. Pada dasarnya seseorang yang memiliki intrapersonal yang baik, maka perilakunya juga akan cenderung baik. Social skill yang dibarengi dengan kemampuan komunikasi yang kuat pada seorang pimpinan merupakan aspek dasar kompetensi leadership, dan akan sangat bermanfaat untuk membentuk perilaku sosial dan budaya yang diinginkan, sehingga dapat tercipta kondisi kerja yang harmoni dan kondusif.

Article