Article

Trusted Partner in People and Corporate Development

 

“Risk Leadership”

Ditulis oleh:
Brata Taruna Hardjosubroto
Managing Partner – Xerofi Indonesia

Mengapa Japan Airlines bangkrut, mengapa PANAM tutup, mengapa Lehman Brother yang telah beroperasi lebih dari 100 tahun kemudian bangkrut, mengapa Pertamina memiliki profitabilitas yang lebih rendah dari Petronas, mengapa banyak perusahaan yang bangkrut pada saat terjadi krisis ekonomi?

Setiap management, khususnya top management pada umumnya melakukan konsentrasinya pada dua aspek penting, yaitu terhadap Peluang Bisnis dan Ancaman Bisnis. Konsentrasi utama ialah pada peluang bisnis, yakni perusahaan bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk menjadi potensi bisnis atau meningkatkan pertumbuhan pendapatan perusahaan. Pada umumnya aspek peluang bisnis menjadi perhatian utamanya, sehingga relatif sedikit fokus dan konsentrasi yang dicurahkan pada aspek ancaman terhadap bisnisnya. Hal inilah yang menyebabkan sebagian perusahaan yang telah lama beroperasi dapat kemudian bangkrut.

Dari faktor eksternal perusahaan terdapat sangat banyak bentuk ancaman pada pertumbuhan atau eksistensi perusahaan. Salah satu faktor adalah perkembangan teknologi. Saat telephone mobile muncul, produk pager segera hilang di pasaran. Pada saat personal komputer dan komputer mini mulai dikembangkan, main frame IBM dalam waktu tidak terlalu lama juga hilang dari peredaran. Pada saat terjadi krisis energi di tahun 80-an, industri mobil Amerika yang memiliki desain mobil besar dan boros bensin terpukul oleh mobil Jepang yang lebih kecil dan hemat energi. Banyak faktor eksternal lain yang dapat mengancam pengusaha, seperti kebijakan atau peraturan pemerintah, perubahan iklim, terjadinya perang, perubahan kondisi moneter keuangan, dan sebagainya.

Kelemahan atau weakness yang ada pada internal organisasi akan juga merupakan bentuk ancaman perusahaan. Setiap perusahaan memiliki strength (kekuatan) dan weakness (kelemahan). Perusahaan yang tidak melakukan fokus pada sisi kelemahannya, suatu saat akan berkembang menjadi ancaman berbahaya bagi kesehatan perusahaannya. Kelemahan pada internal perusahaan juga sangat beragam, misalkan pada aspek kompetensi karyawannya, atau pada aspek organisasi yang terlalu gemuk, atau pada budaya kerja yang tidak menunjang, atau pada infrastruktur yang tidak mencukupi, dan sebagainya.

Jadi, setiap perusahaan memiliki dan menghadapi berbagai bentuk ancaman (risiko) atas kelangsungan perusahaannya yang bisa disebabkan oleh faktor eksternal atau internal.                Beberapa top management menaruh lebih banyak perhatian dan konsentrasinya pada aspek mencari peluang dan meningkatkan pendapatan atau laba perusahaan, dan kurang menaruh cukup perhatian pada sisi risiko. Leadership pada aspek risiko, pada banyak perusahaan dirasakan kurang.

Perusahaan pada umumnya menerapkan risk management dengan tujuan untuk mengidentifikasi segala potensi risiko yang dapat terjadi pada perusahaan, dan mencari solusi untuk memperkecil potensi risiko yang ada melalui berbagai bentuk cara.  Dibutuhkan leadership yang kuat untuk melakukan identifikasi risiko pada berbagai aspek dalam perusahaan dan juga pada saat implementasi risk management.

Risk leadership merupakan inisiatif dan bentuk keberanian untuk melakukan perubahan pada perusahaan sebagai reaksi atas potensi ancaman yang ditimbulkan oleh faktor eksternal ataupun internal perusahaan. Adalah merupakan salah satu peran management untuk senantiasa mengevaluasi kondisi perusahaan dan mampu ‘meneropong’ dan membaca dengan baik kondisi lingkungan eksternal perusahaan. Kemampuan untuk mengidentifikasi potensi risiko, keberanian untuk mengemukakan potensi risiko, dan persistensi untuk menindak lanjuti dalam proses risk management adalah merupakan bentuk risk leadership dari pemimpin.

Beberapa kasus yang terjadi adalah ketika para pimpinan telah sadar atas beberapa risiko yang sangat mengancam perusahaan. Namun, hal tersebut tidak dilakukan tindak lanjut atau tidak difokuskan penanganannya, oleh karena akan berdampak merugikan beberapa pihak lain yang memiliki pengaruh besar, atau oleh karena harus dilakukannya perubahan yang besar. Dengan kondisi demikian, beberapa pimpinan memilih untuk melakukan jalan alternatif yang pada dasarnya tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya, namun hanya bersifat sementara, atau bersifat menunda atau membiarkan dalam kondisi status quo, sampai dengan berakibat terjadinya permasalahan besar.

Sebagai contoh, terjadinya kondisi ketika pemerintah saat ini harus menaikkan harga BBM untuk menghilangkan dana subsidi pada APBN, dan mencoba mengatasinya dengan mengganti BBM dengan BBG. Namun yang terjadi, adalah ketidaksiapan dalam pengadaan BBG dalam waktu relatif singkat. Kondisi ini bukanlah sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. Sudah pasti bahwa pemerintah telah mengetahuinya beberapa tahun lalu, bahwa kondisi ini cepat atau lambat akan pasti terjadi. Namun, mengapa pada saat beberapa tahun tersebut tidak dilakukan persiapan yang terfokus untuk perubahan BBM menjadi BBG? Bila diteliti lebih dalam, kemungkinan diakibatkan oleh berbagai sebab. Mungkin karena faktor politik tingkat tinggi, atau perebutan lahan bisnis di antara petinggi, atau masih banyak penyebab lain. Hal ini membuktikan bahwa pejabat yang accountable terhadap permasalahan ini memiliki risk leadership yang lemah atau bahkan sangat lemah.

Contoh lain, mengenai masalah kemacetan atau masalah banjir di Jakarta. Masalah ini disadari oleh segenap pimpinan bahwa hal tersebut akan memberikan dampak risiko berupa kerugian yang sangat besar pada seluruh lapisan masyarakat. Namun, mengapa kondisi demikian tidak kunjung menjadi lebih baik? Hal ini menunjukan risk leadership yang lemah pada jajaran pejabat DKI untuk mengatasi pemasalahan yang sudah sangat nyata. Bisa jadi permasalahan yang ada karena terbentur pada banyak pihak yang masing-masing memiliki kekuasaan kuat dan ingin saling mengambil keuntungan dari kondisi tersebut. Ketidakmampuan pejabat DKI untuk menghadapi pihak-pihak terkait tersebut dan melakukan perubahan fundamental menunjukkan lemahnya risk leadership para pejabat DKI dan juga pemerintah pusat.

Oleh karena itu, pemimpin harus memiliki risk leadership yang kuat dan didasari oleh moral dan mental yang kuat. Dengan demikian, management dapat memimpin perubahan yang harus dilakukan demi untuk memperkecil risiko atau ancaman yang ada, baik berasal dari eksternal maupun internal.