Trusted Partner in People and Corporate Development

 

Article

“Making a Strategic Decision”

Ditulis oleh:
Brata Taruna Hardjosubroto
Managing Partner – Xerofi Indonesia

Salah satu tugas seorang pimpinan adalah membuat atau mengambil keputusan. Kemampuan mengambil keputusan adalah merupakan skill/kompetensi yang cukup kompleks dan membutuhkan dasar kompetensi teknis dan sekaligus nonteknis, bergantung pada jenis pengambilan keputusannya. Dalam perusahaan/organisasi, sering terjadi pengambilan keputusan yang tertunda atau keputusan yang buruk. Bila hal ini terjadi akan merupakan salah satu bentuk kerugian yang bisa berupa kesempatan bisnis yang hilang; kerugian dalam bentuk waktu yang idle; atau menurunkan motivasi kerja tim, hingga berpengaruh pada pertumbuhan  atau daya saing perusahaan.

Mengapa sebagian pimpinan perusahaan cenderung menunda atau berlama-lama dalam mengambil beberapa keputusan besar? Penyebab yang umumnya terjadi adalah karena timbulnya kekhawatiran atau rasa takut atas pengambilan keputusan yang salah. Karena itu, bagaimana seorang pimpinan bisa mengatasi rasa takut tersebut, sehingga dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat dan tepat? Pengambilan keputusan yang tepat adalah juga berarti keputusan yang ‘strategik’. 

Perlu dipahami bahwa setiap bentuk pengambilan keputusan adalah ‘selalu’ terkait dengan penyelesaian ‘problem atau masalah atau tantangan’. Bila tidak ada masalah atau tantangan, tidak ada suatu keputusan apa pun yang perlu diambil, atau proses akan berlangsung secara rutin atau berdasarkan nalar yang berlaku umum. Permasalahan dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan kadangkala tidak disadari atau terjadi secara mendadak. Sebagai contoh, suatu produk barang atau services yang tadinya sangat laku di pasar, tiba-tiba atau dalam waktu singkat tanpa disadarinya menjadi tidak laku. Hal ini bisa terjadi karena di pasar ternyata telah muncul produk baru dari kompetitor yang jauh lebih menarik dan ekonomis.

Bentuk dan metode pengambilan keputusan akan sangat bergantung pada jenis atau tipe dari permasalahan yang dihadapi yang memiliki empat aspek berbeda, yaitu:

  1. Ditinjau dari ‘sifat’ permasalahan dan pengambilan keputusannya, apakah relatif mudah berubah atau sulit berubah. Sebagai contoh, bila memutuskan untuk membuat suatu bangunan tertentu, pada saat bangunan tersebut sudah jadi nanti, jika dirasakan ada yang kurang tepat maka relatif akan sulit untuk dilakukan perubahan.
  2. Ditinjau dari ‘dampak dan risiko’ keputusan, apakah pengambilan keputusan memiliki risiko yang tinggi atau rendah, serta apakah memberikan dampak pasti atau belum pasti. Hal paling mengkhawatirkan ialah bila dampak manfaatnya belum pasti, namun risikonya tinggi.
  3. Ditinjau dari ‘tanggung jawab’ pengambilan keputusan; apakah merupakan tanggung jawab individu, atau kelompok atau melibatkan pula tanggung jawab pihak ketiga. Contoh, bila memutuskan untuk mengubah harga atau memberi diskon khusus, apakah keputusan tersebut merupakan tanggung jawab kologial atau individu atau bahkan melibatkan mitra kerja?
  4. Ditinjau dari ‘urgensi atau desakan’ untuk mengambil keputusan, apakah harus dilakukan segera atau ada cukup waktu untuk melakukan pertimbangan. Contoh, sering kali seseorang harus memutuskan pada pilihan untuk mengalokasikan waktunya menghadiri undangan ke luar kota, yang bentuk urgensinya akan bergantung pada manfaat yang akan diperolehnya.


Pengambilan keputusan juga akan sangat bergantung pada jenis permasalahan yang dihadapi, apakah merupakan hal rutin operasional, ataukah sesuatu yang emergensi atau sesuatu yang strategik bagi perusahaan.

Pengertian strategik ialah keputusan yang mengandung nilai tinggi, efektif, dan memiliki manfaat besar untuk jangka waktu panjang. Contoh, pada saat memutuskan suatu kebijakan perusahaan yang terkait dengan rencana melakukan investasi besar, sangat perlu mempertimbangkan dengan seksama agar investasi yang dikeluarkan bernilai strategik. Keputusan strategik hanya akan dapat terjadi bila analisis problem dilakukan secara ‘sistem’. Artinya, analisis permasalahan dilakukan dengan seksama dan mencakup seluruh aspek yang memengaruhi masalah atau disebut juga berpikir secara sistemik.

Dalam menghadapi permasalahan kompleks, solusi yang dihasilkan harus mengandung unsur strategik, dan untuk itu pengambilan keputusan harus berdasarkan analisis masalah secara sistemik. Analisis sistemik adalah evaluasi masalah dengan mempertimbangkan beberapa faktor utama dan faktor sekunder penyebab masalah.

Sebagai contoh, suatu perguruan tinggi (PT) memiliki masalah karena kualitas mahasiswa yang lulus dari PT tersebut dinilai rendah. Untuk mengatasi itu, dilakukan analisis permasalahan. Dari hasil analisis diperoleh beberapa hal sebagai berikut:

  1. Mahasiswa sering datang terlambat kuliah dengan tujuan untuk memenuhi absensi
  2. Banyak mahasiswa yang bahkan sengaja hanya menghadiri 80 persen jadwal kuliah agar tetap bisa mengikuti ujian.
  3. Mahasiswa tidak siap pada materi kuliah, bahkan kadang kala tidak tahu topik yang akan dibahas pada mata kuliah yang dihadirinya, sehingga tidak terjadi diskusi yang berkualitas dalam kelas.
  4. Mahasiswa hanya belajar bilamana akan ada ujian tengah semester atau ujian akhir, dengan ‘sistem kebut semalam’ (sks).
  5. Hal tersebut menjadikan dosen hanya melakukan persiapan seadanya dan kurang produktif.


Bagaimana solusi yang harus diambil sebagai keputusan? Apakah untuk setiap masalah perlu untuk dicarikan solusinya, sehingga perlu ada lima solusi? Dalam kasus ini ditemukan satu solusi yang akan mengatasi ke lima masalah di atas dan tercapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kualitas lulusan mahasiswa. Solusi akhir yang diputuskan adalah bahwa pada setiap jadwal kuliah akan selalu didahului dengan melakukan ‘pre-test’ selama 10 menit sejak kelas dimulai. Pre-test yang diberikan ialah merujuk pada materi kuliah yang akan dibahas pada hari tersebut. Ketentuan pre-test adalah nilai pre-test memberikan bobot 10 persen terhadap nilai akhir, dan mahasiswa yang terlambat atau tidak masuk akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh nilai pre-test.

Dampak dari pengambilan keputusan untuk melakukan pre-test ternyata sangat positif. Mahasiswa menjadi rajin masuk kuliah dan tidak terlambat; mahasiswa hadir dalam kelas dengan persiapan yang baik karena telah membaca materi yang akan dibahas; kualitas diskusi dalam kelas juga membaik, mahasiswa tidak lagi belajar ‘sks’ karena harus selalu membaca materi sebelum kuliah. Dengan demikian, kualitas lulusan mahasiswa menjadi jauh lebih tinggi.

Contoh ini menunjukkan bahwa PT tersebut telah mengambil keputusan strategik untuk mengatasi masalah kualitas alumnus. Keputusan tersebut dapat disebut strategik, karena dinilai efektif, memberi manfaat besar, dan dapat berlaku untuk kurun waktu panjang, atau bahkan sepanjang masa.